Setiap Hari Manusia Mengalami Mati

0
84

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Mati ada dua macam : Pertama, mati atau wafat kecil (وفاة صغري) yaitu tidur. Kedua, mati besar (وفاة كبرى) yaitu saat berpisahnya roh selamanya dari jasad”. Demikian disampaikan penulis mengawali ceramah ta’ziyahnya pada malam ke-3 berpulangnya ke rahmat Allah Wakil Rektor 1 IAIN Ternate, Dr H M Tahir Sapsuha, di rumah duka di Kel. Dufa-Dufa, Ternate, Jumat 12 Juni 2020 jam 20.00 WIT.

Dalam perspektif al-Qur’an lanjut penceramah, bahwa ada persamaan atau keserupaan antara tidur dan mati. Hal tersebut dijelaskan oleh firman Allah pada QS. Az-Zumar : 42

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا ۖ فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَىٰ عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَىٰ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Terjemahan:
Allah memegang jiwa atau roh (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.

Ayat tersebut menjelaskan bahwa orang yang tidur dan orang yang mati, roh keduanya dipegang (kuasa) Allah. Orang yang mati rohnya kemudian ditahan sedang roh orang tidur dikembalikan ke jasadnya sesuai lamanya tidur (يعيد الروح إلى الجسد). Roh adalah daya yang diberikan Allah kepada makhluk-Nya termasuk manusia. Dengan roh itu manusia dapat hidup dan beraktifitas.

Keserupaan tidur dengan mati juga digambarkan firman Allah, QS. Al-An’am ayat 60 :

وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُمْ بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيهِ لِيُقْضَىٰ أَجَلٌ مُسَمًّى ۖ ثُمَّ إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ثُمَّ يُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Terjemahan:
Dan Dialah yang mematikan (menidurkan) kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan.

Ayat tersebut dipahami oleh sebahagian ulama mengandung makna bahwa Allah mematikan manusia di dalam tidurnya (di malam hari) dan membangunkannya di siang hari (ثم يبعثكم) diserupakan dengan kematian lalu dibangkitkan dari kubur ( ثم إليه مرجعكم ثم ينبئكم بما كُنتُم تعملون).

Sebahagian ulama menjelaskan beberapa persamaan lain antara tidur dan mati yaitu : 1. Keduanya tidak lagi bisa beraktifitas seperti manusia normal. Karena itu ia tidak dapat diundang untuk mengikuti seminar online (webinar) dan lainnya. 2. Keduanya tidak bisa dibendung sebagai tanda kemahabesaran Allah swt. 3. Orang tidur dan orang mati terputus dari kehidupan dunia. 4. Aktifitas orang tidur setelah bangun dan aktifitas orang mati sebelum matinya adalah dalam pengetahuan Allah swt. Di hari kemudian nanti setiap manusia akan mempertanggungjawabkan apa yang sudah dikerjakan semasa hidupnya.

Ayat tersebut juga oleh ulama dipahami berisi informasi tentang relativitas waktu. Seseorang yang tidur berjam-jam dan bermimpi sekitar 10 detik jika diukur dengan waktu normal, ia bisa memakan waktu berhari-hari, berminggu-minggu dalam kehidupan nyata. Misalnya, bermimpi naik sepeda motor keliling dunia, atau bermimpi menghadiri seminar Internasional di Belanda, di Amerika dan di Mesir. Dalam kehidupan nyata berkeliling dunia atau mengunjungi beberapa kota di dunia tentu membutuhkan waktu yang cukup lama yang hanya memakan waktu beberapa detik dalam mimpi. Demikian juga bagi seseorang yang berusia 50 tahun bisa merekam pengalamannya atau apa yang sudah dikerjakan selama berpuluh-puluh tahun sebelumnya. Rekaman melalui memori dapat dilakukan hanya dalam waktu hitungan menit. Artinya, Maha Kuasa Allah swt yang menciptakan waktu.

Dalam perspektif Islam, waktu itu sangat berharga. Di dalam waktu manusia hidup, berbuat, dan berkarya. Di dalam waktu Ummat Islam pernah mengalami kemajuan dan kemunduran, di dalam waktu masalah keadilan, kesejahteraan, persatuan dan kesatuan tidak pernah berhenti dibicarakan, dan di dalam waktu topik moderasi Islam diseminarkan, serta di dalam waktu pula sampai hari ini masyarakat dunia menghadapi covid-19. Karena itu manusia tidak boleh terlena ditundukkan oleh waktu tetapi sebaliknya manusialah yang harus menundukkan waktu. Artinya, waktu sebagai anugerah Allah swt harus disyukuri dengan menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Al-Qur’an menjelaskan bahwa semua manusia berada dalam kerugian besar kecuali mereka yang beriman dan melakukan kebaikan-kebaikan, saling mengajak kepada kebenaran dan kesabaran (QS. Al-Ashr : 1-3).

Penulis: Dr. M. Djidin, M. Ag – Dosen Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here