Sengketa Hajar Aswad (Seri-25)

0
116

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Genting, Suasana semakin memanas. Empat pemuka Quraisy bersitengang. Sudah lima hari lima malam berdebat. Tidak ada yang mau mengalah. Semua merasa paling berhak. Paling suci dengan batu itu. Semua berdalih dengan kebesaran nama kabilahnya. Merasa paling pantas mengembalikan batu itu di tempatnya semula. Pertumpahan darah pun hampir saja terjadi. Gara-gara batu yang dikenal hajar aswad itu. Batu dari surga.

Peristiwa itu, terjadi 16 tahun sebelum hijrah (606 M). Saat Ka’bah direnovasi setelah banjir bandang menerjang Mekkah. Untungnya, Abu Umaiyah bin Mugirah al-Mukhzumi punya solusi.

“Siapa yang paling pertama masuk di masjid ini melalui pintu shafa, maka dialah yang berhak mengangkat batu itu”. Usulan Umaiyah yang disepakati para pemuka kabilah itu.

Keesokan harinya, ternyata orang yang paling pertama masuk lewat pintu itu adalah Muhammad bin Abdullah. Umurnya masih 35 tahun kala itu. Lima tahun sebelum kenabian. Perkara itu pun diserahkan kepadanya. Sesuai kesepakatan para pemuka kabilah yang bertikai.

Nabi Muhammad pun membentangkan surbannya. Meletakkan hajar aswad di di atasnya. Kemudian meminta semua pemuka kabilah memegang tiap sudut kain surban itu. Keempatnya bersama mengangkat hajar aswad ke ka’bah. Barulah beliau yang meletakkan di tempatnya semula.

Pertikaian meredup. Dendam meredam. Semua bangga. Merasa berjasa. Tidak ada rasa kecewa. Sungguh kecerdasan (fatanah) Nabi menyelesaikan konflik itu. Sangat bijaksana.

Dewasa ini, banyak sengketa kerap terjadi. Mulai senketa dalam diri. Rumah tangga. Kampus. Masyarakat dan sampai Negara. Dan paling mutakhir adalah persoalan penanganan pandemi Covid-19 yang belum berakhir.

Sengketa atau masalah tidak bisa selesai, karena egoisme. Suami. Istri. Masyarakat. Pejabat. Bawahan dan pimpinan. Semua merasa paling benar. Tidak ada yang mau mengalah. Tidak ada yang mau berkorban. Semua merasa paling berhak memiliki. Paling pantas juara. Akibatnya, persolan itu berlarut-larut. Kian membesar dan kronis.

Dalam konteks pandemi Covid-19, lebih khusus lagi kisruh salat Idul Fitri. Di rumah atau di masjid. Perdebatan itu mulai menggema kembali. Baik di tivi, maupun whatsapp media sosial. Suasananya mulai kurang sehat. Bukan mencari solusi, tapi membenarkan diri sendiri. Dan merendahkan orang lain. Etika dialog terlupakan. Baik di masyarakat umum maupun di dunia kampus. Sama saja.

Tarik menarik antara kekhawatiran virus dan kesyahduan (taqwa) lebaran menjadi sebab. Desas desus pemerinah mulai membuka kerang perlahan juga terdengar. Fatwa MUI mengizinkan lebaran di luar rumah bagi yang zona hijau juga sudah beredar. Di sisi lain, para tenaga medis terus menjerit di rumah sakit. Beban pisik dan psikis terus mereka alami. Demi memutus mata rantai pandemi Covid-19. Tentu ini dilemma.

Lantas, apa hubungannya sengketa hajar aswad dengan kisruh Idul fitri? Keduanya membutuhkan akal sehat. Bukan nafsu dan syahwat. Keduanya membutuhkan kecerdasan. Kecerdasan pemerintah dengan aturan yang pasti. Kecerdasan MUI dengan fatwa kontekstual. Kecerdasan masyarakat dengan kepatuhan.

Sebagaimana Nabi Muhammad menyelesaikan sengketa hajar aswad dengan kedamaian. Seharusnya kisruh Idul Fitri saat ini juga akan dilalui dengan baik. Tentu dengan syarat: cerdas bersama. Tidak hanya memahami, tapi mengerti bersama. Meredam egoisme masing-masing.

Dengan demikian, jika kecerdasan telah tertanam di tengah masyarakat, itu sudah cukup sebagai bekal menyelesaikan segala kisruh pandemi Covid-19 dewasa ini.

Sebagaimana Syeikh-Palembani mengatakan bahwa orang cerdas itu adalah “Senantiasa mengerti cara bertaqwa kepada Allah dengan tepat, dan mengerti (intropeksi) kemaslahatan dirinya dengan baik”.

“Orang cerdas adalah orang yang mengerti tempat langkahnya, sebelum dia melangkah”, tegas sang Syeikh.

Wallahu A’lam bishshawab

Penulis: Darlis Dawing – Dosen IAIN Palu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here